Catatan Studi Komparatif “Ajaran Hindu Dharma dengan Sunnatullah dalam Pemeliharaan Alam Semesta”

Acara yang diselenggarakan oleh BEMJ Perbandingan Agama ini merupakan salah satu bentuk kegiatan akademik yang berbentuk studi lapangan. Di dalam kegiatan ini peserta melakukan observasi dan dialog secara langsung dengan pengurus (penyungsung) Pura Jagathnata tentang berbagai bentuk simbol, ritual, dan ajaran Hindu. Setelah kurang lebih 45 menit melakukan observasi, peserta kemudian melakukan dialog. Dari agama Hindu menghadirkan Bapak Drs. I Nyoman Warta, M.Hum yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Pembimas Hindu di Kanwil Depag Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan dari Islam diwakili oleh Prof. Dr. H. Djam’annuri, MA, selaku dosen pengampu mata kuliah Hinduisme dan Guru Besar Perbandingan Agama di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dialog dimulai oleh I Nyoman Warta dengan menjelaskan beberapa hal terkait etika memasuki tempat suci Hindu (Pura), bahwa Pure, sebagai tempat suci etikannya tidak dianjurkan untuk dimasuki oleh perempuan yang sedang datang bulan, mayat, dan hal yang dianggap tidak suci lainnya. Juga tentang pemakaian sabuk atau selendang berwarna kuning yang dimaksudkan sebagai simbol untuk menghormati kesucian dan kesakralan tempat suci tersebut.

Selanjutnya berkaitan dengan tema dialog, I Nyoman Warta menjelaskan bahwa alam semesta/ibu pertiwi diibaratkan sebagai sapi perahan apabila dijaga dan dirawat pasti memberikan berbagai keinginan manusia, tetapi sebaliknya jika alam ini dirusak/diekploitasi akan  memberikan penderitaan kepada umat  manusia,  seperti banjir, tanah longsor, kekeringan  dan sebagainya. Maka alam semesta perlu dirawat dan dijaga sesuai dengan ajaran agama. Dalam agama Hindu di kenal konsep ajaran “Tri Hita Karana” (tiga penyebab kebahagiaan) yang diambil dari 5 kitab Weda; sruti, smerti, sila, acara dan atmanastusti. Isi ajaran tersebut yakni;

  1. Hubungan manusia  kepada Tuhan, diwujudkan dalam berbagai  bentuk pelaksanaan agama dan keagamaan, sehingga menimbulkan kebahagiaan bhatin yang  damai. Seperti Sembahyang, upakara yadnya sebagai  bentuk visualisasi bhakti yang tinggi.
  2. Hubungan manusia dengan manusia, yaitu dengan selalu menjunjung nilai persaudaraan sejati, toleransi dan hidup rukun.
  3. Hubungan manusia dengan alam, hal ini mengharuskan manusia untuk bisa memahami makna mendekatkan diri dengan alam, karena manusia tidak bisa hidup tanpa alam, yaitu makna relasi yang saling menguntungkan dan saling menjaga satu sama lain.

Bagi penulis, konsep tersebut juga bisa didapati dalam Islam tentang Hubungan manusia dengan Allah (hablun min Allah),  hubungan manusia dengan manusia (hablun min al-Naas), dan hubungan manusia dengan alam sekitar (hablun min al-‘Alam). Merujuk pendapat Prof. Djam’annuri dalam diskusi tersebut bahwa adanya perbedaan dengan Islam, sebenarnya lebih pada hal-hal yang artifisial, bukan dalam hal-hal yang prinsipal. Misalnya sunnatullah (hukum kausalitas, hukum alam) ketentuan Tuhan yang dilekatkan kepada makhluknya. Jadi tindakan yang merusak alam merupakan tindakan yang berlawanan dengan sunnatullah.

Dalam Hindu juga diajarkan tentang ”Ahimsa Paramo Dharma atau melakukan kebajikan tertinggi.  Yaitu tidak melakukan tindakan kekerasan, menyakiti yang lain, memfitnah dan sebagainya yang merupakan tindakan melanggar Dharma. Dalam ajaran tersebut Hindu bakan menganjurkan untuk mengedepankan nilai-nilai humanisme sebagai rasa persaudaraan. Di sinilah kita bisa mendapati juga bahwa kedua agama, Islam dan Hindu, juga memiliki makna dan ajaran universal yang bertujuan untuk kemaslahatan bersama, sekalipun secara konseptual dan landasan teologisnya berbeda.

Di sela-sela diskusi tentang tema tersebut, peserta juga menanyakan tentang makna filosofis perayaan Nyepi sebagai pergantian tahun baru Saka bagi umat Hindu. Acara itu diisi dengan perayaan, berpuasa dan lain-lain. tidak makan, tidak minum, tidak menghidupkan api. sedangkan dupa tetap dinyalakan karena merupakan urusan tuhan. kemudian tidak bepergian, melakukan tapa brata, tidak menikmati hiburan dn sejenisnya.

Kemudian beberapa pertanyaan lainnya tentang sejarah kemunculan agama Hindu, dewa-dewa Hindu dan apakah Hindu itu termasuk politeisme dengan banyaknya dewa mereka, atau monoteisme yang berarti hanya ada satu Tuhan di Hindu, dan dewa-dewa itu sebagai malaikat atau apa. Tentang hal ini I Nyoman Warta menjelaskan tuhan Hindu sebenarnya adalah satu, monoteisme. namun umat Hindu memanggilnya dengan berbagai macam nama. Seperti matahari, hanya satu, tapi sinarnya sangat banyak dan memiliki tugas masing-masing. sehingga dalam hindu dikenal Tri Murti. Di Hindu ada 33 dewa , dewa bawah 11, dewa tengah 11, dewa atas 11. sedangkan nama lain dari Tuhan disebut Sang Hyang Widhi, Om Basuki langgeng (di Bromo), Gusti Pangeran (di jawa) dan lain-lain.

Pertanyaan selanjutnya adalah tentang moksa, apakah moksa itu diperoleh dalam kondisi manusia masih hidup atau setelah mati? I Nyoman Warta menjawab saat kita sudah tidak punya tanggungan, maka kita tidak akan mengalami punarbhawa, kehoidupan kembali. moksa dapat diraih dalam kehidpuan ini. misalnya, setelah makan kita kenyang, maka seolah-olah pada saat itu kita tidak butuh terhadap makanan. begitulah kita merasakan moksa dalam hidup, walaupun sesaat.

Akhirnya, penulis dapat menyimpulkan dari diskusi tersebut bahwa berkenaan dengan pemeliharaan alam semesta, seluruh umat manusia dengan sekian banyak perbedaan yang miliki sebenarnya memiliki konsep dalam pemeliharaan alam semesta. Sekalipun berbeda dalam landasan teologis, ritual dan lainnya, tetapi secara prinsip terdapat persamaan untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam, dengan hewan, dengan manusia lainnya dan dengan Tuhan.***


Hidup Matinya Simbol

 

Dalam perjalanan sejarah kehidupan, ada simbol-simbol yang sampai sekarang tetap hidup dan memiliki pengaruh bagi manusia. Tapi ada sebagian yang lain yang tidak lagi memiliki pengaruh itu, bahkan hanya menjadi peninggalan sejarah yang tak memiliki makna yang cukup berarti, atau menjadi “kerang-kerang kosong ingatan yang sepotong-potong” menurut Erich Heller. Misalnya dicontohkan dahulu tanda salib yang menjulang di puncak gereja dapat membangkitkan semangat para jemaat untuk berpikir tentang surga. Tapis seiring dengan pertumbuhan industrialisasi, munculnya gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di atasnya simbol-simbol industri lebih menarik orang-orang untuk berpikir tenang kemakmuran duniawi. Mungkin demikian juga nasibnya dengan tempat ibadah yang lain, masjid misalnya, atau pure, atau kuil. Lalu apakah faktor yang dapat mempengaruihi suatu simbol dapat bertahan dan yang lain punah sama sekali?

Ada beberapa hal yang disinyalir menjadi sebab bagi matinya simbol, antara lain:

  1. Adanya fiksasi makna pada simbol itu, sehingga menjadikan simbol sekedar tanda saja
  2. Keluar dari lokalitas, yakni ketika suatu simbol dibawa keluar dari wilayah dimana simbol itu disimbolisasikan dan dimaknai atau berpengaruh. (John Riechies)
  3. Terjadinya proses pengulangan-pengulangan (repetitions) yang tetap, atau duplikasi atau pewarisan dalam bentuknya saja, bukan maknanya. Sehingga makna sejati simbol itu tidak lagi dapat dipahami dan akhirnya simbol itu memnjadi hampa makna (Arthur Costler)
  4. Ketika simbol berubah menjadi fakta. Suatu simbol akan memiliki nilai dan pengaruh ketika nilai transendensinya masih tetap terjaga, dan tidak divisualisasikan dengan bentuk-bentuk kontemporer atau duplikasi yang dapat diindra dan ditangkap rasio. (Anthony Bridge)
  5. Pengaruh yang terakhir adalah perubahan sosial, politik, budaya, ekonomi, pendidikan dan migrasi.

Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar simbol itu tetap hidup adalah dengan menafsirkan ulang makna simbol (redefinisi), bukan reduplikasi bentuknya saja tanpa dibarengai dengan redefinisi makna simbol tersebut. Ditafsirkan kembali di dalam konteksnya yang baru

Sedangkan menurut Anthony Bridge ada dua sarana untuk mengatasi masalah kematian simbol, yaitu (1) menciptakan simbol-simbol baru, tapi cara ini tidak dan efeknya lambat. (2) haruslah dilakukan upaya untuk menunjukkan hubungan antara simbol lama dan realitas pembentuknya. Simbol akan terus hidup hanya jika simbol itu memperkuat pengertian kita tentang realitas ilahi (transendensi) yang semula ingin dihadirkan oleh simbol itu.

Review “Hidup dan Matinya Simbol” dalam FW. Dillistone, Daya Kekuatan Simbol, hal. 207-213)


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.